Saturday, April 28, 2012

Tahap Perkembangan anak

Masa Perkembangan Anak
Masa perkembangan anak merupakan suatu hal yang khusus, sebagai masa bertumbuh dan berkembangnya semua aspek dan fungsi yang ada dalam diri anak, termasuk perkembangan fisik, intelektual dan sosial yang berlangsung secara serentak dan seimbang (multidimensional).
Perkembangan seorang anak mengikuti beberapa prinsip diantaranya :
  1. Perkembangan merupakan rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, berkesinambungan dan tiap individu berbeda.
  2. Perkembangan dimulai dari respon yang sifatnya umum menuju yang khusus.Misalnya seorang bayi yang tersenyum bila melihat setiap wajah, dengan bertambah umur dapat membedakan wajah tertentu (misalnya : ibu)
  3. Manusia merupakan kesatuan yang mempunyai kaitan antara hal perkembangan aspek fisik, motorik, intelektual dan sosial yang mengikuti pola yang pasti.
  4. Tahapan perkembangan berlangsung secara berantai yang sifatnya bersifat universal misalnya : anak mengoceh dulu sebelum berbicara.
  5. Perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh faktor dalam (bawaan) dan faktor luar (lingkungan, pengalaman).
Masa perkembangan anak dibagi dalam beberapa tahap :
1. Masa sebelum lahir (masa pre-natal)
Pada masa ini terbentuk potensi-potensi yang berpengaruh pada perkembangan selanjutnya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan anak, yaitu gizi, penyakit dan lain-lain.
 2. Masa bayi
Dari sejak bayi lahir sampai berumur 2 tahun, bayi akan lebih banyak tidur, bayi terjaga kalau lapar atau pakaiannya basah. Fase dimana bayi pertama menjalani keterikatan.
3. Masa Prasekolah
Disebut juga masa kanak-kanak awal antara 2-5 tahun.
Pada umur 1,5 – 3 tahun, tingkah laku anak :
  • Anak mempunyai kebutuhan sosial
  • Belajar atau mengenal bahaya
  • Mengetahui peraturan dan disiplin
  • Belajar mematuhi peraturan sosial dan mengetahui kebersihan
  • Anak belajar adanya hadiah / hukuman (Reward and Punishment).
Pada umur 4 – 5 tahun :
  • Sudah dapat menggunakan konsep bahasa.
  • Mengenal lingkungan diluar rumah / bermain dengan anak lain.
  • Membedakan laki-laki dan perempuan
  • Berkembang kebutuhan akan pujian dan hadiah.
  • Tingkah lakunya mulai menghindarkan celaan dan hukuman.
 4. Masa anak sekolah
Disebut juga masa laten, perlakuan baik pada perawatan gigi yang diberikan pada masa sebelumnya akan bermanfaat untuk waktu yang akan datang. Masa ini berlangsung diantara umur 6 – 12 tahun. Menurut Stone dan Chruch (1975) masa ini adalah masa kehilangan gigi, masa perubahan fisik yang cepat, masa meraih identitas yang tidak bergantung pada orang lain, masa untuk mengalami kelakuan dan berfikir realitik. Untuk dokter gigi dapat memanfaatkan periode ini karena anak menganut tingkah laku melibatkan diri, anak dapat menerima alasan-alasan untuk mengurangi rasa cemasnya.
 
5. Masa remaja
  • Masa ini berlangsung antara 13 – 21 tahun. Dengan pembagian masa prapuber (13-14 tahun), masa puber (14-17 tahun) dan masa yang paling sukar, ini merupakan masa peralihan dimana terjadi peralihan anak menjadi dewasa. Anak cenderung untuk berbuat sosial dan mudah hanyut dalam godaan, juga menentang, mengganggu ketertiban, keras kepala, mudah marah. Masa adolensi adalah waktu yang tenang dalam siklus kehidupan, dimana anak mulai belajar menyesuaikan diri.
Tingkah Laku Anak
Tingkah laku anak ditentukan oleh beberapa faktor :
  1. Perkembangan psikologis
  2. Pengaruh orang tua
  3. Keadaan fisik anak
  4. Rasa takut.

Saturday, April 14, 2012

Fissure Sealant

Pemberian sealant pada gigi telah terbukti memiliki keefektifan tinggi dalam pencegahan karies oleh bahan sealant didasarkan penutupan pit dan fisura sehingga mikroflora dalam pit dan fisura tdak dapat menjangkau nutrisi yang dibutuhkan. Retensi adekuat sealant diperlukan untuk menutupi permukaan gigi terutama pada area yang dalam, pit dan fisura yang tidak teratur, dan aplikasinya dilakukan pada daerah yang bersih dan kering saat prosedur dilakukan.
Kebanyakan sealant yang tersedia di pasaran adalah berbasis resin. Pemberian sealant berbasis resin memerlukan teknik khusus dan dipengaruhi banyak faktor. Seperti kerjsama pasien pasien, ketrampilan operator dan kontaminasi area tindakan. Perlunya etsa pada prosedur sealant resin membuat sulit dilakukannya etsa pada molar yang erupsinya sebagian (Subramaniam, 2008).
Menurut cara lama, etsa pada gigi sulung dilakukan selama 1 menit dan 1,5 menit pada gigi permanent. Pada studi klinis lain, diperoleh hasil bahwa lama etsa dengan bahan etsa yang serupa selama 20 detik memiliki kemampuan yang sama dengan etsa selam 1 dan 1,5 menit. selama 10 detik pada permukaan yang dietsa. Pastikan aliran air benar-benar mengenai bahan etsa dan tidak teserap dulu oleh cotton roll. Setelah dilakukan aliran air, dilakukan pengeringan dengan semprot udara untuk menghilangkan air .
Menghindari kontaminasi saliva selama prosedur sealant sangat penting, proteksi saliva saat melakukan etsa merupakan kunci sukses dalam perawatan. Pada umumnya, isolasi dapat dilakukan melalui dua metode yaitu melalui penggunaan rubber dam dan isolasi dengan cotton roll.
Bentukan hasil etsa menghasilkan struktur yang memungkinkan penetrasinya ke dalam enamel dan membentuk ikatan mekanikal yang efektif. Kerugian dari bahan resin adalah retensi pada struktur gigi hanya tergantung pada jumlah perlekatan mekanisnya. 15-20 detik pengetsaan memberikan retensi yang cukup bagi perlekatan sealant. 
Beberapa penelitian menunjukkan semen ionomer kaca memiliki kemampuan mencegah karies, dengan manipulasi lebih mudah, dan aplikasinya tidak memerlukan proses etsa terlebih dahulu. Semen ionomer kaca lebih memungkinkan dilakukannya sealant pada kondisi-kondisi sulit. Sulitnya kontrol terhadap kondisi lembab pada gigi yang belum erupsi sempurna, dan sulitnya manajemen pasien anak adalah beberapa kesulitan aplikasi sealant. Aplikasi yang mudah sangat mengurangi waktu tindakan. Bahan yang kompatibel dan mempunyai koefisien termal yang lebih rendah dari struktur gigi. Keuntungan glass ionomer lainnya adalah kemudahan penggunaan dalam program kemasyarakatan karena waktunya cepat dan efektif.
Penambahan warna pada sealant meningkatkan persepsi saat aplikasi dan saat control berikutnya. Sebagai sealant yang terlihat, memberikan keuntungan untuk melihat adanya kehilangan sealant. Warna putih lebih estetis dan lebih diterima pasien.
Pemberian sealant pada awal-awal erupsi memerlukan frekuensi lebih sering untuk re-aplikasi ulang pemberian fissure sealant. Resin melekat pada enamel melalui etsa asam yang menyediakan perlekatan mekanis yang lebih kuat dibandingkan perlekatan pada semen ionomer kaca. Dengan alasan ini, semen ionomer kaca sebagai fissure sealant sering tidak berhasil diletakkan pada fisura yang tidak dalam. Bagaimanapun aplikasinya, dengan segera akan hilang oleh abrasi atau erosi.
Efek pencegahan karies dari sealant semen ionomer kaca tergantung pada retensi dan kemampuan melepaskan fluoridenya. Fluoride yang dilepaskan mencegah perkembangan karies setelah bahan sealant nampak menghilang. Secara mikroskopis, kemampuan ion fluoride yang menyebar pada enamel memberikan daya tahan terhadap proses demineralisasi.

Dari berbagai sumber

Teknik Aplikasi Fissure Sealant Berbasis Resin

Sebelum mengaplikasian Bahan Sealant kepermukaan gigi maka ada beberapa tahapan harus dilakukan sebagai syarat berhasilnya Fissure Sealant antara lain :
Pembersihan pit dan fisura pada gigi yang akan dilakukan aplikasi fissure sealant menggunakan brush dan pumis
Syarat pumis yang digunakan dalam perawatan gigi:
  1. Memiliki kemampuan abrasif ringan
  2. Tanpa ada pencampur bahan perasa
  3. Tidak mengandung minyak
  4. Tidak mengandung Fluor
  5. Mampu membersihkan dan menghilangkan debris, plak dan stain
  6. Memiliki kemampuan poles yang bagus
Bilas dengan air   
Syarat air:
  1. Air bersih
  2. Air tidak mengandung mineral
  3. Air tidak mengandung bahan kontaminan
Isolasi gigi
      Gunakan cotton roll atau gunakan rubber dam
Keringkan permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara.
Syarat udara :
  1. Udara harus kering
  2. Udara tidak membawa air (tidak lembab)
  3. Udara tidak mengandung minyak
  4. Udara sebaiknya tersimpan dalam syringe udara dan dihembuskan langsung ke permukaan gigi.
Lakukan pengetsaan pada permukaan gigi
  1. Lama etsa tergantung petunjuk pabrik
  2. Jika jenis etsa yang digunakan adalah gel, maka etsa bentuk gel tersebut harus dipertahankan pada permukaan gigi yang dietsa hingga waktu etsa telah cukup.
  3. Jika jenis etsa yang digunakan adalah berbentuk cair, maka etsa bentuk cair tersebut harus terus-menerus diberikan pada permukaan gigi yang dietsa hingga waktu etsa telah cukup.
Bilas ulang dengan air selama 60 detik
Pengeringan dengan udara setelah pengetsaan permukaan pit dan fisura
  1. Syarat udara sama dengan point 3.  
  2. Cek keberhasilan pengetsaan dengan mengeringkannya dengan udara, permukaan yang teretsa akan tampak lebih putih
  3. Jika tidak berhasil, ulangi proses etsa
  4. Letakkan cotton roll baru, dan keringkan
  5. Keringkan dengan udara selama 20-30 detik
Aplikasi bahan sealant
  1. Self curing: campurkan kedua bagian komponen bahan, polimerisasi akan terjadi selama 60-90 detik.
  2. Light curing: aplikasi dengan alat pabrikan (semacam syringe), aplikasi penyinaran pada bahan, polimerisasi akan terjadi dalam 20-30 detik.
Evaluasi permukaan oklusal
  1. Cek oklusi dengan articulating paper
  2. Penyesuaian dilakukan bila terdapat kontak berlebih (spot grinding)

Perawatan Pit dan Fisura

Menurut M. John Hick (dalam J.R Pinkham, 1994: 456), sejumlah pilihan perawatan bagi para dokter gigi dalam merawat pit dan fisura, meliputi:
a.       Melalui pengamatan (observasi), menjaga oral higiene, dan pemberian fluor
b.      Pemberian sealant
Upaya pencegahan terjadinya karies permukaan gigi telah dilakukan melalui fluoridasi air minum, aplikasi topikal fluor selama perkembangan enamel, dan program plak kontrol. Namun tindakan ini tidak sepenuhnya efektif menurunkan insiden karies pada pit dan fisura, dikarenakan adanya sisi anatomi gigi yang sempit.
Pemberian fluor secara topikal dan sistemik, tidak banyak berpengaruh terhadap insidensi karies pit dan fisura. Hal ini karena pit dan fisura merupakan daerah cekungan yang dalam dan sempit. Fluor yang telah diberikan tidak cukup kuat untuk mencegah karies. (R.J Andlaw, 1992: 58). Pemberian fluor ini terbukti efektif bila diberikan pada permukaan gigi yang halus, dengan pit dan fisura minimal.
Upaya lain dalam pencegahan karies pit dan fisura telah dilakukan pada ujicoba klinis pada tahun 1965 melalui penggunaan sealant pada pit dan fisura. Tujuan sealant pada pit dan fisura adalah agar sealant berpenetrasi dan menutup semua celah, pit dan fisura pada permukaan oklusal baik gigi sulung maupun permanent. Area tersebut diduga menjadi tempat awal terjadinya karies dan sulit dilakukan pembersihan secara mekanis.
Indikasi pemberian sealant pada pit dan fisura adalah sebagai berikut:
  1. Dalam, pit dan fisura retentif
  2. Pit dan fisura dengan dekalsifikasi  minimal
  3. Karies pada pit dan fisura atau restorasi pada gigi sulung atau permanen lainnya
  4. Tidak adanya karies interproximal
  5. Memungkinkan isolasi adekuat terhadap kontaminasi saliva
  6. Umur gigi erupsi kurang dari 4 tahun.
Sedangkan kontraindikasi pemberian sealant pada pit dan fisura adalah
  1. Self cleansing yang baik pada pit dan fisura
  2. Terdapat tanda klinis maupun radiografis adanya karies interproximal yang memerlukan perawatan
  3. Banyaknya karies interproximal dan restorasi
  4. Gigi erupsi hanya sebagian dan tidak memungkinkan isolasi dari kontaminasi saliva
  5. Umur erupsi gigi lebih dari 4 tahun.
Pertimbangan lain dalam pemberian sealant juga sebaiknya diperhatikan. Umur anak berkaitan dengan waktu awal erupsi gigi-gigi tersebut. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang berharga untuk pemberian sealant pada geligi susu; umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi permanen molar pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi. Sealant segera dapat diletakkan pada gigi tersebut secepatnya. Sealant juga seharusnya diberikan pada gigi dewasa bila terbukti banyak konsumsi gula berlebih atau karena efek obat dan radiasi yang mengakibatkan xerostomia.

Histopatologi Karies pada Pit dan Fisura

Permukaan oklusal gigi posterior merupakan daerah yang paling rawan untuk terjadinya karies. Bentuk anatiomis gigi ini yang memungkinkan terjadinya retensi dan maturasi plak. Aktivitas bakteri dalam plak berakibat terjadinya fluktuasi pH. Kondisi naiknya pH memberikan keuntungan terjadinya penambahan mineral (remineralisasi) gigi, sedangkan turunnya pH akan berakibat hilangnya mineral gigi. Kehilangan mineral ini merupakan suatu proses demineralisasi jaringan keras yang menjadi tanda dan gejala sebuah penyakit.
Gejala dini suatu karies enamel yang terlihat secra makroskopik adalah berupa bercak putih. Bercak ini memiliki warna yang tampak sangat berbeda dengan enamel sekitarnya yang masih sehat. Kadang-kadang lesi akan tampak berwarna coklat disebabkan oleh materi di sekelilingnya yang terserap ke dalam pori-porinya. Baik bercak putih maupun bercak coklat bisa bertahan tahunan lamanya .
Istilah karies fisura menggambarkan adanya karies pada pit dan fisura. Karies berawal dari dinding-dinding fisura. Karies ini membesar ukurannya dan menyatu pada dasar fisura. Karies enamel akan melebar kearah dentin dibawahnya sesuai dengan arah prisma enamelnya. Arah perkembangan karies ke lateral sehingga terbentuk karies yang menggaung.
Awal pembentukan karies dimulai dari fisura, yaitu bagian terdalam dan bagian paling dasar dari permukaan gigi. Kemudian karies berlanjut ke arah lateral dinding fisura dan lereng cusp.
Enamel pada dasar fisura merupakan daerah yang terkena karies paling awal, karies akan menyebar sepanjang enamel, kemudian karies berlanjut hingga dentinoenamel junction. Bila dentin terkena karies, maka perkembangan karies menjadi lebih cepat dibandingkan saat enamel terkena lesi. Pada kavitas fisura terjadi kehilangan mineral dan struktur pendukung dari enamel dan dentin, sehingga secara klinis nampak karies .
Karies secara histologi dibagi dalam zona-zona berdasarkan pemeriksaan dengan mikroskop cahaya,
Zone 1: Zona Translusen
Zona ini tidak terlihat disemua lesi, tetapi jika ada akan terletak pada bagian depan dan merupakan daerah perubahan awal dari gambaran normal. Zona ini tampak tidak berstruktur, translusen berbatasan dengan zona gelap di daerah permukaan dan enamel normal di bawahnya. Dibandingkan dengan enamel normal, zone ini lebih porus dikarenakan proses demineralisasi.
Zona 2: Zona Gelap
Zona gelap merupakan daerah kedua dari perubahan email normal berada tepat di atas zona translusen.  Zona gelap lebih porus daripada zona translusen. Pada zona gelap ini terdapat pori-pori kecil. Pori-pori ini merupakan daerah penyembuhan temapat mineral telah didepositkan kembali.
Zona 3: Badan Lesi
Zona ini merupakan daerah yang terbesar. Zona ini terletak di atas zona gelap dan di bagian dalam permukaan karies. Daerah ini berwarna lebih gelap karena adanya molekul air yang memasuki pori-pori jaringan dimana indeks refraksi air berbeda dengan enamel. Volume pori-pori area ini sekitar 5% di pinggir dan makin membesar ke pusatnya hingga 25%.
Zona 4: Zona Permukaan
Zona ini terlihat paling jelas. Volume pori-pori zona permukaan ini berkisar 1% tapi jika karies terus berkembang maka area ini akhirnya akan hancur dan terbentuklah kavitas. Lapisan permukaan yang relatif tidak terserang ini berhubungan dengan sifat-sifat enamel yang mempunyai derajat remineralisasi tinggi, kandungan fluor yang banyak, dan kemungkinan jumlah protein yang tidak larut lebih besar disbanding dengan lapisan di bawahnya.
Setelah enamel terkena karies, diperlukan waktu sekitar 3-4 tahun karies berkembang hingga mencapai dentin. Perkembangan karies secara klinis terdeteksi tergantung hilangnya ketebalan enamel dan bentukan morfologis pit dan fisura.

Dari berbagai sumber.